Perkaderan HMI

Dari HMIpedia
Langsung ke: navigasi, cari

BAB I Pendahuluan Dasar Pemikiran Perkaderan adalah proses mendayagunakan dan aktualisasi segenap potensi kader, sehingga dapat berkembang dinamis dengan bertumpu pada kemampuannya sendiri. Dengan demikian, dinamika organisasi (HMI) sebagai akibat dari dinamika kader. Input dari pihak luar (alumni) harus dipandang sebagai stimulan atau faktor pendorong. Dalam proses itu, keberadaan dan peran kader menjadi syarat dan faktor kunci. Sumberdaya dan daya dukung yang dimiliki organisasi (HMI) diarahkan untuk menyiapkan para Kader, sehingga mereka memiliki kemampuan, baik sebagai penggerak/dinamisator maupun sebagai kerangka penopang keberlanjutan HMI. Pelatihan sebagai salah satu sumberdaya adalah agenda strategis dalam rangka menyiapkan Kader, karena pelatihan menjadi sarana untuk: 1. Merawat dan menguatkankan komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat 2. Menumbuhkembangkan kesadaran dan daya berpikir kritis 3. Meningkatkan kemampuan (pengetahuan dan keterampilan) kader, baik sebagai pelaku Program maupun penggerak masyarakat. Ketepatan rancangan pelatihan Kader, dengan demikian menentukan efektifitas kegiatan pelatihan sebagai sarana penyiapan Kader. Efektifitas itu, selanjutnya mewujud dan dapat diukur melalui: 1. Kinerja Kader dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai pelaku Program 2. Kualitas hasil kegiatan Program 3. Perluasan / peningkatan peran Kader seiring dinamika masyarakat. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi kader diharapkan mampu menjadi alat perjuangan dalam mentransformasikan gagasan dan aksi terhadap rumusan cita yang ingin dibangun yakni terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang dirindhoi Allah SWT. HMI sebagai organisasi kader memiliki platform yang jelas dalam menyusun agenda dengan mendekatkan diri kepada realitas masyarakat dan secara konsisten membangun proses dialetika secara obyektif dalam pencapaian tujuannya. Daya sorot HMI terhadap persoalan akan tergambar pada penyikapan kader yang memiliki keberpihakan terhadap kaum tertindas (mustadha’afin) dan memperjuangkan kepentingan mereka serta membekalinya dengan ideologi yang kuat untuk melawan kaum penindas (mustakbirin). Untuk dapat mewujudkan cita-cita revolusi di atas, maka seyogyanya perkaderan harus diorientasikan kepada proses rekayasa pembentukan kader yang memiliki karakter, nilai dan kemampuan untuk melakukan transformasi kepribadian dan kepemimpinan seorang muslim yang utuh (kaffah), sikap dan wawasan intelektual yang melahirkan kritisisme, serta orientasi kepada kemandirian dan profesionalisme. Oleh karena itu, untuk menguatkan dan memberikan nilai optimal bagi pengkaderan HMI, maka ada tiga hal yang harus diberi perhatian serius. Pertama, rekruitmen calon kader. Dalam hal ini, HMI harus menentukan prioritas rekruitmen calon kader dari mahasiswa pilihan, yakni input kader yang memiliki integritas pribadi, bersedia melakukan peningkatan dan pengembangan diri secara berkelanjutan, memiliki orientasi kepada prestasi yang tinggi dan potensi leadership, serta memiliki komitmen untuk aktif dalam memajukan organisasi. Kedua, proses perkaderan yang dilakukan sangat ditentukan oleh kualitas pengurus sebagai penanggung jawab perkaderan, pengelola latihan, pedoman perkaderan dan bahan yang dikomunikasikan serta fasilitas yang digunakan. Ketiga, iklim dan suasana yang dibangun harus kondusif untuk perkembangan kualitas kader, yakni iklim yang menghargai prestasi individu, mendorong semangat belajar dan bekerja keras, menciptakan ruang dialog dan interaksi individu secara demokratis dan terbuka untuk membangun sikap kritis yang melahirkan pandangan futuristik serta menciptakan media untuk merangsang kepedulian terhadap lingkungan sosial. Untuk memberikan panduan (guidance) yang dipedomani dalam setiap proses perkaderan HMI, maka dipandang perlu untuk menyusun pedoman perkaderan yang menjadi strategi besar (grand strategy) perjuangan HMI sebagai organisasi perkaderan dan perjuangan dalam menjawab tantangan zaman.

Kedudukan Panduan Latihan Kader ini sebagai acuan dalam pengelolaan kegiatan Latihan Kader HMI sebagai upaya mendukung pencapaian tujuan organisasi secara optimal.

Maksud dan Tujuan Maksud Panduan ini disusun dengan maksud menyediakan acuan bagi seluruh pihak yang terkait dalam pengelolaan kegiatan Latihan Kader.

Tujuan Panduan ini disusun untuk tujuan menyediakan: a) Acuan teknis pengelolaan Latihan Kader HMI. b) Acuan tbagi pengembangan Latihan Kader

Sasaran Dengan adanya dokumen Panduan Latihan Kader ini diharapkan dapat mencapai sasaran, yaitu: a) Latihan Kader diselenggarakan secara sistematis (terencana dan terukur). b) Latihan Kader dilaksanakan sesuai dan responsif terhadap kebutuhan dan kondisi zaman.




  BAB II PELATIHAN KADER I

Fungsi Sebagai sarana pendadaran calon kader. Latihan ini bersifat wajib.

Tujuan Tujuan dilaksanakan Latihan Kader I (Basic Training) adalah “Terbinanya kepribadian muslim yang berkualitas akademis, sadar akan fungsi dan peranannya dalam berorganisasi, serta hak dan kewajibannya sebagai kader umat dan kader bangsa”

Target Target yang diharapkan pasca Latihan Kader 1 (Basic Training) dapat dilihat dengan indikator sebagai berikut: 1. Memiliki kesadaran menjalankan ajaran islam dalam kehidupan sehari hari (menjalankan ibadah secara rutin, baik dan teratur) 2. Mampu meningkatkan kemampuan akademis (IP meningkat) 3. Memiliki kesadaran akan tanggungjawab keurnatan dan kebangsaan (berperan dalam kehidupan masyarakat: kampus, rumah, dll) 4. Memiliki Kesadaran berorganisasi (aktif dalam kegiatan organisasi dan kepanitiaan) Aspek Aspek Fokus/Penekanan Target Kesadaran Kritis Membentuk daya berpikir kritis para Kader Metode berpikir kritis

Emotif Menumbuhkan komitmen dan motivasi Kader Penguatan nilai-nilai dasar ke-Islam-an Pengetahuan Pengembangan wawasan pengetahuan Pengetahuan tentang filsafat, sejarah, sosial-politik, ke-organisasian dan manajemen, sesuai materi Latihan yang disajikan Keterampilan Kapabilitas Kader Kemampuan berkomunikasi, Sikap Perilaku dan sikap mental Kader Disiplin. Objektif, terbuka,

Kelompok dan Materi Latihan Mengacu pada Kerangka Pikir diatas, teridentifikasi 6 Kelompok Materi (Sub Modul), yaitu: Kemahasiswaan, keindonesiaan, KeHMIan, Keorganisasian dan Kekaderan. Kelompok materi (Sub Modul) di atas dijabarkan menjadi Pokok Bahasan sebagai berikut: Materi Pokok Bahasan

Ke-Mahasiswa-an 1. Hakikat dan Peran Strategis Kampus 2. Hakikat Keberadaan Mahasiswa 3. Dunia Kemahasiswaan dalam Dinamika Sosial Ke-Indonesia-an 1. Sejarah Indonesia 2. Kondisi Indonesia Hari ini 3. Indonesia dalam Pusaran Perubahan Dunia Ke-HMI-an 1. Sejarah HMI 2. Konstitusi HMI 3. NDP/NIK 4. Mission HMI Keorganisasian HMI 1. Hirarki dan Struktur Organisasi 2. Manajemen organisasi HMI (Good Governance) 3. Instansi Pengambilan Keputusan

Unsur-Unsur Training Unsur-unsur training merupakan komponen yang terlibat dalam kegiatan pelaksanaan latihan kader 1 terdiri sebagai berikut: 1. Pengurus HMI Cabang Pengurus HMI Cabang berperan dalam mengatur regulasi pelaksanaan Latihan Kader I (Basic Training), dan legalisasi atas pengukuhan kelulusan peserta yang dituangkan dalam Surat Keputusan tentang Pengukuhan dan Pengesahan Anggota Biasa Himpunan Mahasiswa Islam 2. Pengurus HMI Komisariat Pengurus HMI komisariat bertanggung jawab atas terlaksananya Latihan Kader I (Basic Training) sebagai penyelenggara kegiatan. 3. Badan Pengelola Latihan Badan Pengelola Latihan merupakan institusi yang bertanggung jawab atas pengelolaan Latihan Kader I (Basic Training)

Secara teknis terdapat beberapa elemen yang terlibat diantaranya: 1. Organizing Committee Organizing Committee bertugas dan bertanggung jawab terhadap segala sesuatu hal yang berhubungan dengan teknis penyelenggaraan kegiatan. Tugas-tugas OC secara garis besar sebagai berikut : a) Mengusahakan tempat, akomodasi, konsumsi dan fasilitas lainnya b) Mengusahakan pembiayaan dan perijinan latihan c) Menjamin kenyamanan suasana dan keamanan latihan d) Mengusahakan ruangan, peralatan dan penerangan favourable e) Bekerja sama dengan unsur-unsur lainnya dalam rangka menyukseskan jalannya latihan

2. Steering Committee Steering Committee bertugas dan bertanggung jawab atas pengarahan dan pelaksanaan latihan.Tugas-tugas SC secara garis besar sebagai berikut : a) Menyiapkan perangkat lunak latihan b) Mengarahkan OC dalam pelaksanaan latihan c) Menentukan pemateri/instruktur/fasilitator d) Menentukan pemandu/master of training

3. Pemandu/Master of Training Pemandu/Master of Training bertugas dan bertanggung jawab untuk memimpin, mengawasi, dan mengarahkan latihan. Sejak dibukanya Latihan Kader I (Basic Training), tanggungjawab pengelolaan latihan berada sepenuhnya dalam tanggung jawab pemandu/master of training, sampai latihan dinyatakan ditutup. Tugas-tugas pemandu/master of training secara garis besar sebagai berikut : a) Memimpin latihan, baik di dalam forum ataupun di luar forum b) Memberikan materi apabila pemateri/instruktur/fasilitator tidak dapat hadir c) Melakukan penajaman pemahaman atas materi yang telah diberikan d) Melakukan evaluasi terhadap peserta e) Menentukan kelulusan peserta latihan f) Mengadakan koordinasi diantara unsur yang terlibat langsung dalam latihan

4. Pemateri/Instruktur/Fasilitator Pemateri/Instruktur/Fasilitator bertugas untuk menyampaikan materi latihan sesuai dengan bidang yang difahami. Terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi menjadi pemateri diantaranya yaitu materi yang akan disampaikan sesuai dengan disiplin ilmu dan basic pengalaman di Himpunan Mahasiswa Islam. Kode Etik Pemateri LK I

1. Pemateri LK I memegang mandat dari BPL 2. Berpakaian sopan, minimal kemeja dan celana panjang rapih 3. Dilarang merokok selama meyampaikan materi 4. Menjaga perilaku selama meyampaikan materi 5. Hadir 15 menit sebelum jadwal meyampaikan materi 6. Pembatalan dilaporkan kepada SC, selambat-lambatnya 24 jam sebelum meyampaikan materi. 7. Menjaga profesionalisme sebagai seorang pemateri 8. Sanksi terhadap pelanggaran kode etik diatas akan ditentukan kemudian oleh BPL

5. Peserta Peserta adalah anggota muda dan / mahasiswa islam.

6. Tim Monitoring dan Evaluasi Training Tim Monitoring dan Evaluasi Training bertugas dan bertanggung jawab untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan training agar sesuai dengan pedoman. Hasil monitoring disampaikan kepada Cabang dan Komisariat Penyelenggara.

Mekanisme Pelaksanaan Proses pelaksanaan training dibagi dalam tiga fase, yaitu : • Fase persiapan, dalam fase ini dilaksanakan hal-hal sebagi berikut: a) Pengurus HMI komisariat membentuk OC dengan surat keputusan b) Pengurus Komisariat menyerahkan laporan maperca kepada PA Cabang dengan jumlah minimal 15 calon kader. c) OC mengirimkan proposal LK I yang disertai SK penetapan OC dan surat pemohonan pengelolaan 21 hari sebelum pelaksanaan. d) Pengurus Badan Pengelola Latihan membentuk SC dengan surat mandat. SC merupakan anggota Badan Pengelola Latihan dan Pengurus Cabang. e) SC mengirimkan nama-nama pemandu kepada BPL untuk dikeluarkan surat keputusan. f) Pengurus BPL mengeluarkan surat keputusan pemandu. g) SC menghubungi pemateri dan MOT yang telah ditetapkan dan memastikan kesiapan mengisi LK I. h) OC mengadakan pendaftaran peserta dan menyediakan hal-hal admnistratif seperti: formulir pendaftaran, pamflet, kuitansi sb. i) SC mempersiapkan bahan-bahan atau materi-materi yang diperlukan untuk training seperti: Culrcillum vitae, topik-topik diskusi, case study, format screaning, format penilaian, format presensi, post test, undangan pemateri, dsb. j) Sedapat mungkin diadakan pertemuan/rapat gabungan antara panitia pelaksana, MOT, dan instruktur untuk menyusun langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mensukseskan training. Dan konsultasi agenda acara training kepada BPL atau PA Cabang. • Fase pelaksanaan, dalam fase ini dilaksanakan hal-hal sebagi berikut: a) Acara pembukaan dengan susunan acara sebaga berikut: 1. Pembuka 2. Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an 3. Menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne HMI 4. Laporan ketua Panitia 5. Sambutan-sambutan: - Sambutan Ketua Umum Komisariat sekaligus pembukaan LK I - Sambutan Ketua Umum HMI Cabang 6. Penyerahan berkas acara training dari OC ke MOT 7. Do’a 8. Penutup, dilanjutkan dengan penyerahan acara kepada MOT b) Acara pertama yaitu forum Achivement Motivation Training (AMT) yang berisi sub materi definisi, tujuan dan target LK 1, Tata Cara Persidangan, Lagu Indonesia raya dan Hymne HMI serta Motivasi oleh MOT c) Pelaksanaan training selanjutnya dilaksanakan sesuai jadwal acara training yang telah ditetapkan. Dan tetap harus dijaga suasana training yang intelektualitas, religus, persaudaraan dan menyenangkan. d) Trainig harus memenuhi materi wajib LK I. e) Adanya simulasi untuk materi-materi tertentu, misalnya; metodologi diskusi, KMO, dan Teknik sidang. f) Adanya penilaian tulis diawal forum (pretest) dan ada evaluasi training peserta (post test). g) Master of Training melakukan transparansi nilai bersama SC dan PPPA komisariat akan kelulusan peserta training. h) Acara penutupan dengan susunan acara sebagai berikut: 1. Pembuka 2. Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an 3. Menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne HMI 4. Pembacaan SK kelulusan peserta LK I oleh MOT 5. Pembacaan Ikrar Pelantikan oleh Ketum Cabang 6. Laporan Ketua Panitia 7. Sambutan-sambutan: - Sambutan Ketua Umum Komisariat sekaligus penutupan LK I - Sambutan Ketua Umum HMI Cabang 8. Do’a 9. Penutup • fase sesudah training a) OC bertanggung jawab atas kesekretariatan (tempat ataupun inventaris) yang digunakan selama training. b) SC memberikan laporan kegiatan selambat-lambatnya 1 minggu setelah latihan selesai kepada pengurus BPL dan OC memberikan laporan kepada Pengurus Komisariat dan diteruskan kepada PA Cabang. Hal-hal yang harus dilaporkan meliputi: - Gambaran umum kegiatan - Pelaksanaan kegiatan - Evaluasi - Kesimpulan dan saran - Lampiran-lampiran c) Adanya Raport peserta yang disampaikan kepada PPPA Komisariat dan Pa Cabang oleh Badan Pengelola Latihan. d) Pengurus komisariat melakukan follow-up kepada kader yang dinyatakan tidak lulus atau lulus bersyarat dan melakukan pendampingan/monitoring/ serta menjadi kakak asuh bagi mereka.





  BAB VII EVALUASI PELATIHAN Sebagai organisasi maahsiswa islam yang memfungsikan diri sebagai organisasi kader, maka HMI senantiasa berusaha untuk memelihara motivasi, dedikasi dan konsistensi dalam menjalankan sistem perkaderan yang ada. Dalam usahanya untuk menjaga konsistensi perkaderan maka perlu ada suatu mekanisme evaluasi penerapan pedoman perkaderan yang telah disepakati bersama. Selama ini penerapan pedoman perkaderan belum mengalami persamaan secara mendasar terutama kurikulum latihannya, oleh karena itu penentuan kurikulum yang dipakai seluruh cabang dan sekalgus pengelola latihan yang telah ada dituntut menerapkan secara komprejensif. Hal ini menjadi kebutuhan yang sangat mendesak mengingat kualitas output kader ditentukan oleh pedoman perkaderan yang diterapkan pada masing masing cabang. 7.1. JENIS Evaluasi Capaian Pembelajaran Pada evaluasi ini, point yang di jadikan acuan dalam menilai capaian pembelajaran adalah pemahaman peserta mengenai materi yang diberikan sesuai dengan silabus yang diserahkan pada pemateri. Metode yang dilakukan dalam evaluasi ini adalah menilai hasil review peserta mengenai materi yang telah disampaikan. Disisi lain, evaluasi tidak hanya pada kemampuan menangkap materi namun juga termasuk pola sikap dan keaktifan setelah dilakukan pembinaan mengenai sikap dan tanggung jawab dalam forum. Berdasarkan kriteria penilaian yang terbagi dalam beberapa predikat,maka dapat diketahui sejauh mana capaian pembelajaran yang telah diserap oleh peserta. Evaluasi Kualitas Proses Pembelajaran Evaluasi ini berkenaan dengan keefektifan sistem pengelolaan dalam training (proses belajar), dimana karakter kader yang terbentuk menjadi cerminan keberhasilan proses pembelajaran. Apabila penyadaran-penyadaran yang ditanamkan pada calon kader selama proses training mampu dicerminkan melalui torehan sikap yang baik, maka proses pembelajaran dianggap berjalan baik. Namun, jika setelah proses pembelajaran dalam training belum ada perubahan sikap yang lebih baik maka perlu ditelisik ulang hal yang kurang dlaam proses pembelajaran. Bentuk nyata dari sikap yang terbentuk sebagai cerminan keberhasilan pembelajaran adalah tumbuhnya jiwa kepemimpinan dan sadar akan peran dan fungsinya sebagai kader umat dan kader bangsa. Evaluasi Kemampuan MT, C\SC, Pemateri Evaluasi pada aspek ini salah satunya dapat dilihat pada hasil pemantauan pemandu yang tertuang pada lembar berita acara pemandu. Kelancaran proses pengelolaan latihan dan kemampuan peserta dalam menyerap materi menjadi pertimbangan apakah ke-tiga komponen ini sudah berjalan dengan baik atau tidak. Sehingga, dalam hal ini diperlukan parameter kelancaran pengelolaan latihan dan penilaian kemampuan peserta training dalam berbagai aspek.

7.2. ASPEK Aspek-aspek yang dinilai Selama berlangsungnya LK I, aspek-aspek yang dinilai dibagi menjadi dua bagian, yaitu : 1. Pengetahuan 2. Keterampilan 3. Sikap Sesuai dengan pedoman perkaderan HMI, ranah yang dinilai meliputi : 1) Ranah afektif (sikap) dengan bobot sebesar 50%, dengan acuan pada sikap peserta terhadap aturanmain yang berlaku, misal taat atau melanggar atau terhadap pesan dari sebuah materi berdampak atau tidak terhadap sikap, dapat diuji dengan pertanyaan yang subyektif. 2) Ranah kognitif (pengetahuan) dengan bobot sebesar 30%, dengan melihat hasil test terhadap peserta melalui pertanyaan yang sifatnya obyektif 3) Ranah psikomotorik (tindak) dengan bobot 20% dengan acuan pada prilaku peserta, misal apakah dia mau membantu orang lain atau tidak dan lain sebagainya.

7.3. METODE Kuantitatif Bentuk penilaian yang terhadap peserta LK I dalam bentuk angka-angka. Penilaian ini didapat dari hasil test (menjawab soal), penugasan, dan lain sebagainya. Kualitatif Bentuk penilaian pemandu terhadap peserta yang diwujudkan dalam komentar atau rekomendasi atau gambaran dekriptif terhadap peserta yang sifatnya kualitatif, misal baik, buruk, dan lain sebagainya.

7.4. INSTITUSI Untuk menerapkan mekanisme evaluasi perlu ada institusi yang jelas, sehingga mekanisme evaluasi ini menjadi efektif. Dalam struktur HMI penaggungjawab dan pelaksana evaluasi penerapan pedoman perkaderan adalah bidang PA dan BPL.

7.5. INSTRUMEN Format evaluasi: 1. Raport perseta LK 1 2. Laporan kegiatan LK1

7.6. TATA CARA PENILAIAN Untuk menilai peserta LK I sehingga dapat ditentukan kelulusannya adalah berdasarkan akumulasi nilai dari semua ranah. Semua penilaian menggunakan penilaian kuantitatif. Standar nilai menggunakan angka 0 – 100. 1) Penilaian Afektif Penilaian afektif harus dikonversi dari nilai yang sifatnya kualitatif menjadi kuantitatif dengan cara memberikan nilai 100 kepada semua peserta di awal training. Penilaian tidak mungkin bertambah tetapi akan berkurang jika terjadi pelanggaran interval 5, bobotnya tergantung besarnya kesalahan yang dilakukan, misal terlambat akan berbeda bobotnya dengan tidak hadir dalam satu session. 2) Penilaian Kognitif Penilaian kognitif dilakukan dengan mengakumulasikan jumlah nilai-nilai test dan tugas yang sifatnya obyektif. 3) Penilaian Psikomotorik Hampir sama dengan afektif, maka nilai psikomotorik harus dikonversi menjadi kuantitatif, caranya adalah memberikan nilai 50 kepada semua peserta di awal training, dan mengalami penambahan dengan interval 5, jika peserta melakukan hal-hal baik secara sadar. 4) Penilaian Akhir Nilai akhir adalah nilai akumulasi seluruh ranah. Untuk penilaian akhir ini menggunakan rumus : NA = ((N afektif x 50%) + (N rata-rata kognitif x 30%) + (N psikomotorik x 20%)) x 10 Contoh : Misalkan si yakusa mendapatkan nilai rata-rata test dan tugas sebesar 75, dan beberapa kali melakukan kesalahan sehingga mendapat pinalti sebesar 30, namun ia juga banyak membantu orang lain dan banyak berbuat baik, jadi dia diberi tambahan nilai untuk perbuatan sebanyak 35.

Akumulasi nilai untuk Yakusa adalah : Nilai afektif = (100 – 30) = 70 Nilai rata-rata kognitif = 75 Nilai psikomotorik = (50 + 35) = 85 Maka nilai akhirnya adalah : NA = (70 x 50%) + (75 x 30%) + (85 x 20%) NA = 35 + 22,5 + 17 NA = 74,5 x 10 NA = 745 Peserta dapat dinyatakan lulus apabila memiliki NA ≥ 600 Sumber : MODUL LATIHAN KADER I BPL PB HMI




  BAB VI PENUTUP

Penyusunan kembali pedoman perkaderan merupakan sebuah upaya terpadu untuk menyediakan dokumen organisasi guna menjadi acuan bagi perkaderan yang akan dijalankan dalam setiap jenjang kekuasaan HMI, mulai di tingkat Komisariat-Cabang-Badko hingga PB HMI.Penyusunan dan penerbitan kembali Pedoman Perkaderan HMI didasari oleh semangat penyeragaman perkaderan HMI di seluruh Nusantara, mengingat masih adanya pengelolaan proses perkaderan HMI di tingkat Komisariat-Cabang-Badko yang terkelola dengan inisiatif struktur kekuasaan HMI setempat tanpa mengikuti pedoman perkaderan organisasi yang telah ditentukan. Pengelolaan proses perkaderan yang dikelola dengan inisiatif murni dari struktur kekuasaan HMI setempat tanpa mengikuti pedoman organisasi dikhawatirkan akan mengacaukan output yang diharapkan, demi mencapai tujuan organisasi. Dokumen pedoman perkaderan HMI ini diharapkan dapat menjawab banyak hal yang dibutuhkan oleh fungsionaris HMI disetiap jenjang struktur kekuasaan dalam mengoptimalkan perkaderan di wilayah kerjanya. Dokumen pedoman perkaderan HMI ini merupakan satu dari beberapa buku yang akan diterbitkan untuk konsumsi internal HMI oleh Badan Pengelola Latihan (BPL PB HMI). Diantara beberapa buku tersebut adalah buku “Nafas Perjuangan Kader” (NPK) yang merupakan bahan bacaan kader HMI dalam proses internalisasi nilai dan gerak perjuangan seorang kader.

Innama a’malu binniat (Segala sesuatu bergantung pada niatnya), merupakan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim. Dalam perspektif hadist tersebut, segala sesuatu bisa saja terjadi jika ada niat dalam diri manusia, tentu saja niat yang kuat belum cukup tanpa kerja keras dan ketekunan. Ada lagi sebuah kata mutiara dari Henry Ford, seorang pebisnis, pemilik Ford Corporation salah satu produsen otomotif kelas wahid dunia. Henry Ford melontarkan perkataan yang menarik ketika disinggung terkait kesuksesan besarnya tersebut. (Jika anda berfikir anda bisa, maka anda benar. Jika anda berfikir anda tidak bisa, maka anda juga benar). Dua paragraf diatas dapat menjadi dasar pemikiran mengapa manusia terkadang dapat melampaui hal-hal yang dianggap sulit bahkan mustahil bagi kebanyakan orang lainnya. Sebuah contoh mengapa seorang Henry Ford muda yang tidak tamat SMA, dapat ber-metamorfosis menjadi seorang pebisnis elit dunia dan mengendalikan perusahaan global yang padat modal, dan tekhnologi tersebut. Kita tarik benang merah uraian uraian tersebut pada kondisi kekininan HMI pasca reformasi yang mengalami pergeseran nilai, dikemudian hari pergeseran-pergeseran tersebut menjadi terdakwa dalam terus menerusnya HMI mengalami kemunduran di segala bidang. Menilik dasar pikir diatas, niat merupakan faktor utama mengapa manusia dapat dan tidak dapat melakukan sesuatu, karena niat lah yang kemudian mempengaruhi pola pikir (nila dan laku seorang manusia dalam menjalani kehidupannya. Semangat pembaharuan selalu menjadi kebutuhan bagi setiap manusia yang ingin terus berkembang. Dengan kata lain keberhasilan pengelolaan training sangat tergantung padapemandu dan fasilitator dalam mengelola training, sehingga kreatifitas yang tinggi mutlak diperlukan dalam pelaksanaan modul ini. Sekali lagi, sekedar mengingatkan, modul yang baik adalah kertas kosong, sehingga pertrainingan tidak pernah statis, tetapi akan terus berkembang secara dinamis menuju perbaikan.